Jumat, 21 September 2012

Politisi Islam Sejahterakan Semua Rakyat. Bukan Pribadi atau Kelompoknya!




Secara pribadi saya tak akan memilih Ahok sbg orang no 1 di posisi apa saja.
Tapi jika adil, sebagian prinsipnya jauh lebih baik ketimbang kebanyakan Politikus "Islam" yang (maaf) Oportunis.
Ketimbang jadi orang kaya yang dgn Rp 1 milyar hanya mampu menyantuni 2000 orang dgn uang @ Rp 500.000, Ahok memilih menggunakan Rp 1 M untuk merebut APBD agar bisa mensejahterakan SELURUH RAKYAT.


Bayangkan. Jika APBD 1 daerah dalam 5 tahun Rp 100 Trilyun, jika dibagikan ke seluruh warganya yang jumlahnya 10 juta misalnya, maka masing2 dapat Rp 10 juta.



Atau APBN dalam 5 tahun Rp 7500 trilyun, maka 250 juta rakyat Indonesia bisa menikmati @ Rp 30 juta. Bahkan jika pemimpin ini bisa menasionalisasi perusahaan-perusahaan tambang yang mengeruk kekayaan alam Indonesia, bisa jadi APBN Indonesia bertambah Rp 3000 trilyun setiap tahunnya sehingga dalam 5 tahun didapat Rp 22.500 Trilyun di mana setiap rakyat Indonesia bisa dapat Rp 90 juta.

Jika rakyat makmur, maka PNS, polisi, dan tentara pun ikut makmur karena pajak yang dibayar rakyat meningkat. Rata-rata bisa mendapat Rp 7,5 juta/orang/bulan.


Merebut APBD dan APBN yang nilainya ratusan trilyun atau ribuan trilyun rupiah dari tangan para koruptor untuk diserahkan kepada rakyat jauh lebih penting ketimbang cuma meminta jatah Rp 100-200 milyar dari para koruptor yang hanya bisa dipakai untuk memperkaya pribadi dan kelompoknya saja serta cuma buat bagi-bagi sembako ke beberapa ribu orang setiap bulan sekali.

Sudah saatnya Politisi Islam tidak cuma jualan Label Islam. Tapi Isi, yaitu sikap, kelakuan, dan kebijakan mereka juga harus mencerminkan Islam. Sederhana, jujur, adil, amanah, dan benar2 peduli ummat.



Apa alasan Ahok terjun ke politik?


Ada Beberapa alasan:
Pertama, di tahun 1995 saya mengalami sendiri pabrik saya ditutup karena melawan pejabat yang sewenang-wenang. Meski saya datang dari salah satu keluarga cukup berada di kampung, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saat itu bapak saya mengingatkan pada saya satu pepatah: orang miskin jangan lawan orang kaya, orang kaya jangan nantang pejabat. Saya sempat berpikir mau tinggal di luar negeri saja, tapi papa saya melarang dan mengatakan bahwa satu hari rakyat akan memilih saya untuk memperjuangkan nasib mereka. Jujur waktu itu saya tertawa di dalam hati.
Kedua, sejak kecil saya melihat bagaimana bapak saya dengan mudahnya membantu orang. Bahkan dia rela untuk berhutang demi bisa membantu rakyat. Secara perlahan saya pun jadi ikut mencontoh papa. Papa saya mengatakan bahwa jika saya suka lawan pejabat dan suka bantu orang miskin, lebih baik jadi pejabat saja karena kita tidak akan pernah punya cukup uang untuk bantu orang miskin. Misalnya 1 milyar kita bagikan kepada masyarakat masing-masing 500 ribu, hanya akan cukup dibagi untuk 2000 orang. Mereka pasti juga akan kembali jadi miskin. Tapi jika saya gunakan 1 milyar itu untuk berpolitik merebut APBD, saya bisa menguasai anggaran APBD (yg juga merupakan uang rakyat) dan dapat membuat kebijakan2 yang bisa mendatangkan KEADILAN SOSIAL. Karena pengalaman pahit pribadi, beban sosial di nurani saya, dan keyakinan di atas, saya putuskan untuk berpolitik.
http://ahok.org/tentang-ahok/jawaban-atas-beberapa-pertanyaan-mengenai-ahok/

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar