Rabu, 13 Juli 2011

5 Konsep Pembangunan Versi Boediono yang Tidak Jelas

Saya lihat 5 Konsep Pembangunan Versi Boediono tidak jelas. Di situ Boediono hanya menyampaikan pembangunan Sumber Daya Manusia. Ada pun Sumber Daya lain seperti Sumber Daya Alam, Uang, Ekonomi, dan sebagainya tidak disebut.


Sumber Daya Manusia memang paling penting. Tapi kebijakan yang ada sekarang ini justru tidak mendukung pendidikan SDM kita. Sudah 2 tahun SBY-Boediono berkuasa di tahun 2011 ini. Namun biaya pendidikan di SMA Negeri dan Perguruan Tinggi Negeri sangat mahal. Tidak terjangkau oleh rakyat. Uang masuk SMA Negeri di Jakarta saja ada yang mencapai Rp 7 juta. Sementara untuk masuk Fakultas Kedokteran Negeri, uang masuknya Rp 100 juta-175 juta. Bagaimana penduduk Indonesia bisa pintar?


Alhamdulillah SD dan SMP sudah gratis. Namun dengan pendidikan hanya SMP, bisakah rakyat Indonesia bersaing dengan bangsa-bangsa lain yang rata-rata sudah Sarjana bahkan sampai Doktor S3?


Untuk mendanai pendidikan rakyatnya, Indonesia butuh banyak uang. Dari mana uang tersebut didapat?


Arab Saudi bisa mendapat dana besar setelah menasionalisasi perusahaan minyak AS ARAMCO di tahun 1974 sehingga hasil minyaknya tidak dikentit perusahaan AS tsb. Setelah itu Arab jadi negara kaya yang mampu membiayai rakyatnya belajar dari SD hingga Universitas dengan gratis.


Harusnya pembangunan itu menggunakan seluruh sumber daya yg ada (alam, sdm, uang, ekonomi, dsb) untuk sebesar2 kemakmuran rakyat. SDA harus dikelola send...iri via BUMN hingga hasilnya 100% masuk ke kas negara. Dgn uang yg banyak karena tak dibohongi dan dikentit perusahaan asing, pemerintah menggerakkan ekonomi dgn berbagai proyek yg dikerjakan bersama seluruh Indonesia.


5 Konsep Pembangunan Versi Boediono


Rabu, 13 Juli 2011 18:59


JAKARTA, PedomanNEWS.com - Wakil Presiden Boediono menyampaikan 5 konsep terkait pembangunan dalam sebuah negara. Hal ini disampaikan Boediono ketika membuka seminar nasional yang bertajuk “ Seminar Nasional Mengenai Dunia dengan 7 Miliar dan dampaknya di Indonesia “ di Istana Wakil Presiden Rabu (13/07/2011).


“Pertama pembangunan haruslah di sesuaikan dengan potensi dan kondisi penduduk pembangunan harus memihak kepada kepentingan dan kesejahteraan rakyat banyak. Pembangunan yang hanya dapat dinikmati oleh sebagian kecil rakyat tentu pembangunan yang bukan berwawasan kependudukan “ ujarnya.


Poin kedua menurut Boediono pentingnya pembangunan sumber daya manusia bagi kemajuan bangsa di masa depan. Pembangunan yang berwawasan kependudukan pada hakekatnya juga adalah pembangunan sumber daya manusia.


Ketiga lanjutnya adalah pembangunan yang berwawasan kependudukan harus pembangunan berkelanjutan (sustainable). Pembangunan yang tidak hanya dinikmati oleh kita saat ini tetapi juga pembangunan yang dinikmati oleh anak cucu kita generasi mendatang


“Sedangan keempat kebijakan pembangunan yang mengacu pada perubahan atau dinamika kependudukan yang ada misalnya dengan memperhatikan komposisi atau struktur penduduk sesuai dengan hasil sensus,” tuturnya.


Dan yang terakhir dari kelima konsep pembangunan itu adalah pembangunan berwawasan kependudukan yang mempunyai konotasi bahwa pembangunan semestinya juga kebijakan pembangunan yang “population-influencing”.


http://www.pedomannews.com/nasional/berita-nasional/sosial-budaya/5180-5-konsep-pembangunan-versi-boediono


Biaya PTN dan SMA mahal. Bisa Rp 100 juta lebih. 90% penduduk Indonesia cukup lulus SMP saja? Bagaimana bangsa Indonesia bisa bersaing dengan bangsa lain? Jadi Konsep Pembangunan versi Boediono dengan biaya pendidikan SMA dan PTN yang mahal tidak sejalan dan tidak nyambung.


Biaya Masuk PTN Mencapai Rp 100 Juta Lebih
Senin, 12 Mei 2008 | 07:45 WIB
Dibaca: 1045Komentar: 25
| Share:
JAKARTA, SENIN - Biaya masuk perguruan tinggi negeri bisa mencapai angka di atas Rp 100 juta, sementara setiap semester dapat mencapai Rp 70 juta. Tingginya biaya tersebut semakin memperkecil akses masuk ke pendidikan tinggi.


Demikian benang merah persoalan menyangkut biaya masuk perguruan tinggi negeri yang didapatkan Kompas dalam pencarian selama sepekan terakhir, mulai dari Jakarta (DKI Jakarta), Semarang (Jawa Tengah), Bandung (Jawa Barat), Surakarta (Jawa Tengah), Surabaya (Jawa Timur), hingga Makassar (Sulawesi Selatan).


Besarnya biaya masuk perguruan tinggi negeri (PTN) bergantung pada program yang diambil serta bidang ilmu yang dipilih. Program tersebut beragam dan berbeda antara satu PTN dan PTN lain. Bahkan, ada PTN yang membuka program internasional. Pada program ini, mahasiswa membayar biaya berlipat-lipat dibandingkan program reguler pada setiap semesternya.


Bagi para calon mahasiswa yang gagal masuk melalui program S-1 reguler lewat Seleksi Nasional Masuk PTN (SNMPTN), hampir semua PTN yang dihubungi memiliki program non-SNMPTN. Biaya masuk program non-SNMPTN ini lebih tinggi dibandingkan jalur SNMPTN. Program non-SNMPTN ini pun berbeda antara satu PTN dan PTN lain, bahkan ada yang memiliki lebih dari lima program.


Bandingkan dengan biaya kuliah di National University of Singapore yang biayanya berkisar 9.540 dollar-27.350 dollar Singapura atau di Universitas Kebangsaan Malaysia yang memasang biaya 1.167 ringgit hingga 1.500 ringgit Malaysia.


Kelas internasional


Dari sejumlah program seleksi penerimaan mahasiswa baru, jalur internasional adalah program termahal. Universitas Indonesia tahun ini membuka jalur tersebut. Rektor Universitas Indonesia Gumilar Rusliwa Somantri menjelaskan, selain program S-1 reguler, pihaknya juga membuka kelas internasional untuk fakultas kedokteran, teknik, ekonomi, psikologi, dan ilmu komputer. Biaya kuliah per semester tiga kali lipat program S-1 reguler.


Untuk fakultas kedokteran, biaya masuk Rp 70 juta dengan biaya per semester Rp 35 juta. Fakultas teknik Rp 20 juta per semester dengan uang pangkal Rp 15 juta, dan fakultas ekonomi uang pangkal Rp 26 juta dan Rp 25 juta per semester.


http://nasional.kompas.com/read/2008/05/12/07453547/biaya.masuk.ptn.bisa.rp.100.juta.lebih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar